Koran Koransindo Edisi Februari 2013

CASASAI indonesia diliput oleh Koran Koransindo edisi 23 February 2013 tempat  Elite club Epicentrum

koransindo klik photo untuk link sumber Koran

Dari Filipina keIndonesia

Home » Komunitas » Dari Filipina keIndonesia

Bila sering menonton film laga, pasti kita kagum dengan salah satu teknik pertarungan yang menggunakan arnis, semacam stik atau senjata lain dengan menggunakan kedua tangan untuk saling berkoordinasi menyerang dan mempertahankan diri dari lawan.

Nah, inilah seni bela diri casasai.Casasai rupanya adalah seni bela diri dari Filipina, tapi sudah lama populer di Amerika dan Eropa. Bela diri ini kini tengah naik daun di Tanah Air, bahkan sudah muncul komunitasnya, yaitu Komunitas Casasai Indonesia. “Mulanya ada grandmaster casasai dari Filipina, Melecio O Balberde, yang datang ke Indonesia dan ingin mempromosikan bela diri ini,” ungkap Arry Gautama, pendiri Komunitas Casasai Indonesia sekaligus salah satu instruktur casasai.

Keinginan Melecio rupanya sulit terwujud. Butuh waktu 10 tahun baginya untuk menemukan orang yang secara konsisten berniat belajar dan mengembangkan seni bela diri ini. Setelah usaha panjang, akhirnya dia bertemu dengan Arry Gautama, Abraham Nugroho, dan Akhmad Dharmawan. Mereka bertiga inilah yang akhirnya memenuhi keinginan Malecio, sekaligus menjadi pelopor berdirinya Komunitas Casasai Indonesia. Komunitas ini juga berafiliasi dengan casasai di Filipina.

“Kami menjalani latihan intensif selama 2 tahun dan setelah cukup untuk mengembangkan, kami dipromosikan sabuk hitam,” kata Arry yang pernah meraih juara pertama kejuaraan arnis di Filipina. Hal yang menarik dari seni bela diri ini adalah menggunakan latihan dasar dengan senjata rotan dengan panjang 70–80 cm. Latihannya pun menggunakan kedua tangan dengan gerakan terkoordinasi.

Uniknya, menurut Arry, manusia, sejak zaman purba sebenarnya sudah terlatih menggunakan senjata di tangan. Jadi, sebenarnya walaupun sedang tidak memegang senjata sungguhan, benda apa pun bisa dijadikan senjata. “Jadi, saat mempertahankan diri, pasti bisa menggunakan tangan kosong atau benda yang ada di sekitar, misalnya kunci mobil, tas, atau pulpen,” tambah Arry.

Karena peminat bela diri yang konon asalmuasalnya dari masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, tapi berkembang di Filipina ini mulai banyak, komunitas yang terbentuk sejak 2009 ini pun rajin menggelar semacam pelatihan casasai. Salah satunya, acara woman self defense di salah satu universitas dengan peserta ratusan mahasiswa jurusan sekretaris.

Di Jakarta sendiri, tempat latihan komunitas ini ada 3 cabang, di antaranya di BSD, Elite Club Epicentrum, dan Kelapa Gading. “Ini pun sebenarnya kita belum bisa mengakomodasi banyaknya permintaan untuk di luar kota, kami masih kekurangan instruktur,” sebut Dharmawan. Adapun yang ingin belajar bela diri ini, mulai usia 8 tahun hingga orang dewasa usia 60 tahun bisa mempraktikkannya.

“Bagi anak-anak, bela diri ini bisa melatih fokus dan kerja otak kanan dan kiri, beberapa orang tua yang bergabung mengaku menjadi tidak pelupa karena berlatih ini,” kata Abraham, instruktur casasai. Mereka yang bergabung pun tak hanya dari Indonesia. Ada banyak ekspatriat dari Spanyol, Amerika, Prancis, dan Australia yang sengaja datang ke Jakarta untuk belajar seni bela diri ini. Kebanyakan dari mereka tertarik belajar bela diri jenis ini karena di negaranya masih belum berkembang. “Cita-cita kami, bela diri ini bisa masuk Asean Games,” kata Arry. dyah ayu Pamela

 

 

No comments yet.

Tinggalkan Balasan